News & Events
Hukum Mengakhiri Shalat Fardhu agar Tidak Repot Wudhu Dua Kali
- 4 Mei 2026
- Posted by: SMK YPM 3 TAMAN
- Category: Adverisement Hobbies Technology Uncategorized

SMYTITANEWS –
Assalam’ualaikum warahmatullahi wabarakatuh . Izin bertanya, Ustadz atau Ustadzah. Langsung saja pada inti pertanyaan. Apakah boleh mengakhirkan shalat (salat fardhu maksudnya) sampai waktunya hampir habis?
Pertanyaan ini muncul karena saya biasanya shalat Dhuhur saat waktu hampir mendekati shalat Asar. Iya, tujuan saya supaya bisa langsung shalat fardhu dua kali sekaligus. Di sisi lain, tidak perlu ke kamar mandi untuk berwudhu dua kali. Biasanya, saya kira-kirakan shalat Dhuhur selesai, dzikir beberapa menit, lalu masuk waktu shalat Asar, dan langsung shalat Asar.
Bolehkah praktik mengakhirkan shalat seperti yang biasa saya kerjakan. Niatnya iya supaya lebih simpel saja, langsung shalat dua kali sekaligus tanpa ke kamar mandi dua kali karena masih punya wudhu. Terima kasih banyak. (Zainal Abidin )
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas pertanyaannya. Pembaca NU Online dan penanya yang dirahmati Allah swt. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta dianugerahi kekuatan dalam menjalankan kewajiban shalat fardhu.
Perlu diketahui bahwa shalat fardhu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan pada waktu yang telah ditetapkan. Kewajiban ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 103:
اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
Artinya: “Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.” (QS An-Nisa’: 103).
Dalam literatur kitab fiqih Syafi’i dijelaskan bahwa maksud dari kewajiban shalat fardhu harus tepat waktu ialah melaksanakan dalam batas waktu yang telah ditetapkan. Artinya, tidak harus dilaksanakan pada waktu awal, setelah masuk waktu harus dilaksanakan, tidak. Boleh melaksanakannya pada awal waktu, tengah, atau akhir waktu. Yang terpenting tidak sampai keluar batas waktu yang ditentukan syariat.
Namun demikian, apabila berinisiatif tidak melaksanakannya pada waktu awal maka saat waktu shalat masuk ada kewajiban al-‘azmu , yakni bermaksud atau berkomitmen untuk melaksanakannya dalam batas waktu yang telah ditetapkan syariat, misalnya saat waktu Dhuhur masuk, maka wajib bermaksud melaksanakannya pada pukul 13.00, 13.30 WIB, atau pukul berapa pun yang penting habis belum waktu shalat Dhuhur.
Syekh Nawawi Banten menjelaskan sebagaimana redaksi berikut:
مَا يَسعهَا لَكِن إِذا أَرَادَ تَأْخِير فعلهَا عَن أول الْوَقْت لزم الْعَزْم على فعلهَا فِي الْوَقْت على الْأَصَح
Artinya: “Saat waktu masuk, shalat wajib dilaksanakan, dengan kewajiban yang masih diperpanjang sampai akhir waktu yang hanya cukup melaksanakan shalat. Akan tetapi, jika ingin mengakhiri shalat, versi qaul ashah, wajib ber-azam saat waktu shalat masuk untuk melaksanakannya di dalam waktu shalat (yang ditetapkan syariat). ( Nihayatuz Zain , [Beirut: Darul Fiqr, tt], halaman 51).
Jadi, berdasarkan penjelasan di muka, sesungguhnya diperbolehkan mengakhirkan shalat dengan tujuan seperti yang dikemukakan penanya. Sebab, tidak ada kewajiban shalat pada waktu awal atau waktu tengah, di akhir waktu pun boleh dengan ketentuan atau batas waktu seperti yang dijelaskan oleh Syekh Nawawi Banten.
Namun, jika kita membaca tentang keutamaan dan pentingnya shalat fardhu di awal waktu, sebaiknya shalat di akhir waktu tidak dijadikan sebuah kebiasaan. Di samping meninggalkan keutamaan shalat fardhu di awal waktu, shalat di akhir waktu juga bisa menjadi penyebab enteng tentang masalah menjaga waktu shalat atau shalat fardhu tepat waktu. Bahkan, sebab mengakhirkan shalat, dengan tujuan apa pun, pada akhirnya bisa menjadi penyebab kita lalai dalam melaksanakan shalat.
Dalam konteks keutamaan shalat fardhu di awal waktu, suatu ketika Rasulullah saw pernah ditanya soal amal apa yang paling utama. Apa penjelasannya? Yaitu shalat fardhu di awal waktu. Rasulullah saw bersabda:
الصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا
Artinya: “Shalat pada awal waktunya.” (HR.Imam al-Baihaqi).
Inilah jawaban Rasulullah saw ketika ditanya amal apa yang paling utama. Selain hadits ini, Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits yang menggambarkan keutamaan shalat fardhu di awal waktu, sebagaimana redaksi berikut:
قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم: الْوَقْت الأول من الصَّلَاة رضوَان الله، وَالْوَقْت الآخر عَفْو الله
Artinya: “Rasulullah saw bersabda: ‘waktu awal shalat itu keridhaan Allah, sedangkan akhir waktu itu ampun kepada Allah.” (HR Imam At-Tirmidzi).
Selain menggambarkan keutamaan shalat di awal waktu dengan redaksi ‘keridhaan Allah’, hadits riwayat Imam at-Tirmidzi ini juga menggambarkan bagaimana shalat di akhir waktu dilatarbelakangi oleh sebuah kecerobohan atau kelalaian. Oleh karena itu, shalat di akhir waktu disandingkan dengan permohonan maaf kepada Allah. Kita tahu, jika memaafkan sangat identik dengan kesalahan atau kelalaian.
Mari simak penjelasan Syekh Badruddin al-Aini saat membacakan hadits ini. Ia menulis:
وَالْعَفو لَا يكون إلاَّ عِنْد التَّقْصِير
Artinya: “Tidak ada pengampunan kecuali ketika ada kesembronoan.” ( Umdatul Qari’ Syarhu Shahihil Bukhari , [Beirut: Daru Ihya’it Turats, tt], jilid V, halaman 14).
Dari semua penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa secara hukum fiqih memang diperbolehkan mengakhirkan shalat fardhu, yang terpenting tidak sampai keluar dari batas waktu yang telah ditetapkan, yakni sampai akhir waktu yang hanya cukup melaksanakan shalat sebagaimana penjelasan Syekh Nawawi Banten. Juga, wajib ber-‘azm saat waktu shalat masuk jika ingin mengakhirikan.
Akan tetapi, terlepas dari hukum yang diperbolehkan ini, seperti yang tersirat dari sabda Rasulullah saw, sebaiknya mengakhirkan shalat fardhu tidak kita jadikan kebiasaan, karena hal tersebut di samping akan mengabaikan keutamaan-keutamaan agung yang hanya terdapat pada shalat di awal waktu, juga akan menyebabkan diri kita terlibat masalah menjaga waktu shalat, seperti yang telah dikemukakan.
Demikian penjelasannya, semoga bermanfaat dan semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjalani kewajiban shalat dengan hati yang khusyuk sehingga shalat kita menjadi benteng pertahanan diri dari melakukan hal-hal yang bernilai dosa. Wallahu a’lam.
SMK Bisa! SMK Hebat! SMK YPM 3 Taman Luar Biasa, Unggul dan Juara!
https://www.instagram.com/smkypm3taman/